4 years, 3 months, 3 days

Hari ini, 15 Januari 2014 iseng buka blogku yang terlantar, niatnya si mau sunting tulisan Kost Pekalongan eh malahan terpaku ama si daisypath. Si mba daisy bilang kalo aku dan mas udah menjalani kehidupan pernikahan selama 4 tahun, 3 bulan dan 3 hari. Kok cepet banget ya rasanya, tau-tau 4 tahun, apa karena betah, nyaman? ato bahagia?
Mungkin juga…. (ya nano-nano lah ya rasanya…). Kita emang bukan pasangan yang selalu ngerayain ultah pernikahan, hehe… bukan karna aku lupa ato mas yang lupa, tapi emang dua-duanya yang lupa….. jadi ga ada “drama”.

Sudah 4 tahun menjalani hidup sama si mas, banyak merenung masih banyak kekurangan dan kesalahanku yang belum (aku) perbaiki. Mas sudah berulang kali juga kasih nasehat tapi bagaikan siaran berita di radio, masuk telinga kanan langsung keluar telinga kiri. Ga dicerna, ga dipikirin apalagi dilaksanakan. Maafin aku ya mas…. alhamdulilah mas masih tetap sabar sama aku (tapi aku tau sabarnya manusia termasuk mas ada batasnya…, tapi tolong diperpanjang batasnya ya mas..)

Hampir 2 minggu ini tidur ga nyenyak, resah dan tiba-tiba merasa asing dengan semuanya….. keluarga dan teman. Merasa sedikit terhibur dengan berita pernikahan temen SMA lila dan ketemu temen-temen SMA. Setelahnya kembali lagi ke rasa galau itu. Selama 2 minggu rasanya kayak ada di perahu terombang-ambing ga jelas. Sering muncul pertanyaan “hidup ini untuk apa? Gimana cara menjalani hidup?”.

Perasaan campur aduk ga jelas. Mau curhat ke temen juga bingung apa yang mau diceritain, karna aku sendiri ga tau kenapa. Mood Swing kah? Sepertinya bukan.

Mungkin ini lebih ke perenungan hidupku sendiri. Banyak pertanyaan mucul di kepala.

  1. Apa tujuan manusia hidup di dunia ini. Setelah dilahirkan, sekolah sampai sarjana, manusia dituntut dapat pekerjaan. Setelah dapat pekerjaan muncul lagi tuntutan untuk menikah. Setelah menikah ditanya udah punya momongan? Udah punya anak ditanya kapan nambah adik baru? Nah itulah pertanyaan usil manusia ke manusia lainnya. Dan anehnya pertanyaan usil itu mentok berhenti di situ. Padahal sebagai manusia satu hal yang pasti adalah mati. Kok ga ada yang nanya ya..”Kapan kamu menghadap Sang Khalik? Udah siapkah kamu mati? Yaah secara nalar emang ga akan ada yang tanya karna itu hal yang paling menakutkan buat yang nanya, yang ditanya dan yang denger (yaa kalo ada yang ga takut, setidaknya buat aku itu menakutkan). Kepastian akan kematian membawa ke banyak pertanyaan, Pertanyaan Pertama, sebenarnya hidup ini untuk apa? Apa tujuan manusia hidup di dunia? Secara teori aku tahu kita hidup untuk menghamba dan beribadah kepada Alloh. Segala sendi kehidupan ini bisa dilihat sebagai ibadah (inspirasi dari kata-kata mas… “ya kita niatkan aja ibadah dek…). Tapi kok rasanya aku belum melakukan itu sebagai way of life-ku. Naudzubillah min dzalik…. jangan ditiru. Pertanyaan pertama aku tahu jawabannya, tapi malahan semakin membingungkan karna menimbulkan Pertanyaan Kedua.
  2. Dengan tujuan manusia diciptakan dan dihidupkan. Lalu Bagaimana Manusia Menjalani Kehidupan agar Tujuan Manusia Dihidupkan itu Tercapai? Senormalnya manusia, aku juga punya tujuan hidup (bukan tujuan aku dihidupkan), misalnya punya pekerjaan yang aku suka, hidup berkeluarga bahagia berkecukupan. Normal kan? Alhamdulilah pekerjaan yang aku suka sudah dapat, bonus kuliah S2 udah tamat. Hidup berkeluarga, alhamdulilah menikah sudah, bonusnya si mas yang sabar dan mengerti aku. Momongan? belum dikasih, lagi usaha. Jangan-jangan hanya karena masalah ini aku jadi meracau begini? Yah salah satu faktornya memang karna sampai sekarang belum dikasih momongan. Mempunyai momongan dan menjalani peran baru sebagai orang tua adalah sesuatu yang belum bisa aku jalani. Ya ini yang bikin rasanya seperti di ruang hampa udara atau di lautan lepas mau mundur ga bisa, mau maju ga bisa. Lebaaay banget… Nah kembali ke bagaimana manusia menjalani hidup, dikhususkan ke bagaimana aku menjalani hidupku yang sekarang rasanya mau maju ga bisa mundur ga bisa itu? Ada banyak saran soal belum dikaruniai momongan, misalnya: Satu, ya puas-puasin pacaran dulu ama suami. Dua, cari kesibukan dan kegiatan untuk mengisi waktu. Tiga, pasrah dan santai aja, jangan stress. Dan Empat, ini yang paling sering didengar, semua akan indah pada waktunya, bahwa Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah buat kita. Ya entahlah…. aku merasa kalimat-kalimat ini cuma bunga-bunga aja, ga bermakna, sekedar basa basi penghiburan. Kalau masalah semua akan indah pada waktunya, ya iyalah pasti indah pada waktunya, tapi kapan? yang tanpa cobaan dan mudah jalannya pasti akan bilang “indah”. Lalu bagaimana dengan yang banyak cobaan dan berliku-liku jalannya? Masih indahkah? Tentu saja ga indah harus mengalami up and down nya, perjuangannya baik secara fisik dan mental. Sudah berusaha menjalani dengan hati ikhlas tapi kadang masih terbesit kenapa aku? Why me in English? Oh..God Why Me?? Kalau udah gitu nasehatnya selalu dikaitkan ke “mungkin kamu belum siap” perbaiki diri” latihan dulu”. Tambah menyebalkan bukan? Setelah melenceng dan melantur sana sini, kembali ke masalah bagaimana cara hidup yang harus kujalani dengan segala cobaan ini. Jawabannya secara teori, mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta dan tetap berusaha. Prakteknya gimana? Ga tau. Menurutku perbaikan diri dalam hal ibadah bukan karena ada cobaan tetapi karena memang akunya ini sebagai manusia tempatnya salah dan dosa, yang kadang sampai atheis menyalahkan Tuhan yang memberikan cobaan. Ada atau ga ada cobaan (yg berat) dalam hidup bukannya memang tetap harus mendekatkan diri kepada-Nya. Sang Pencipta, tempat kita kembali pada akhirnya. Bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya ketika kita merasa sedih dan marah kepada Nya karena merasa sebal diberi cobaan. Naudzubillah min dzalik…lagi-lagi jangan ditiru. Aku memang ga pantas marah karna hidup kita dan hal-hal di sekitar kita semuanya karunia-Nya. Ingin rasanya mengenyahkan rasa marah ini, rasa kecewa, rasa sedih…. yaaah begini rasanya dikasih cobaan saat kita sudah lelah, kecwa sedih kayak diputusin pacar pas lagi cinta.
  3. Nah dari cerita diatas, sedikit kebayang bagaimana aku menjalani hidup di masa-masa sulit ini. Bagai robot menjalani rutinitas. Hampa. Kadang spontan timbul niat untuk menghibur diri dengan hal baru. Misal maen gitar, mau bikin naskah buku fiksi. Gitar udah dibeliin sama suami, belajar udah. Tapi kenapa kalau lagi ga pengen main gitar, maen game, atau nonton korea, di malam hari terasa sepi, sendiri dan tetap hampa. Tidur ga nyenyak, selalu mimpi dan mengigau tambah parah (yang ini kata adik dan suami, akunya si ga sadar). Menghibur diri ke mall jelas bukan pilihan karena memang ga boleh boros karena lagi program. Paling menakutkan buat aku adalah sampai kapan perasaan ini aku akan aku rasain? sering tersadar kalo ga mungkin menjalani hidup begini. Kegalauan ini harus berakhir, walaupun aku belum tau bagaimana caranya. Tapi yang pasti perbaikan harus dilakukan, mulai dari nol… Aku harus melepaskan kemarahanku, kekecewaanku pada Tuhanku. Saat ini aku masih belum tahu bagaimana mengatasi masalahku, bagaimana mendekatkan diri padaNya lagi dengan hati tulus ikhlas tanpa kemarahan, tanpa kesedihan karena sudah diberikan cobaan yang sudah mencapai ambang batas lelahku. Ya Allah masihkah mau memberikan AmpunanMu karena aku manusia yang berani marah padaMu, kecewa padaMu.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan di pikiranku. Tapi belum bisa diuraikan satu persatu. Renunganku itu sama sekali bukan pencerahan karena aku merasa masih dalam kegelapan, masih berusaha untuk meraih seberkas cahaya untuk kembali kepada jalanNya. Semoga kegalauan ini cepat berlalu.

Tentang wilma

hanya manusia biasa yang ingin hidup bersama dengan manusia biasa, mengharap Ridho-Nya.
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s