Mencintai dengan sederhana

Baik cewek maupun cowok pasti punya impian soal calon suami atau calon istri idaman.

Yah… misalnya suami yang mapan, baik, sholeh, punya rumah, mobil dll…

dan mungkin kalo cewek, yah ya yang cantik, langsing, baik, lembut, keibuan, putih, dll.

Yah ati2 kalo terlalu berharap nanti kalo dapet calon suami yg tidak sesuai, langsung kecewa dan memutuskan ga mau menikah, yeiyeyeyeiii……

 

Menyambung curhatan ku soal bagaimana orang tuaku mengharuskan aku memilih calon suami yang bisa menjamin masa depan, yang sampai skarang dan mungkin nanti aku ga pernah ngerti bagaimana kehidupan manusia bisa terjamin, selain Allah yang menjaminnya.

 

 

Terkadang mata kita tidak bisa melihat cinta tulus yang sebenernya, yang lebih berharga. hehe…

Jadi Inget ma si mas, mas sering bilang pengen banget bahagiain aku (sayang makasih ya), cuma yang bikin dia sedih, kadang dia ga mampu melakukan itu (yah anggapannya bahagiaku itu dengan memberikan sesuatu).

Mas bilang bahwa saat ini hanya perhatian dan rasa sayang saja yang dia beri ke aku, dia belum bisa membelikan aku sesuatu yang membahagiakan buat aku.

 

Mas, semua yang mas kasih ke aku selalu ada kebahagiaan di dalamnya, tanpa mas sadari dan akan selalu teringat.

Misalnya waktu mas nemenin aku pas sakit gigi, beliin aku obat flu pas aku sakit, nuangin air minum ke gelasku, pas habis makan, bikinin aku nasi goreng yang ueeenaaaakkkk banget rasanya (buat akuw), nyariin kerupuk kesukaanku (si mas harus muter2 dari warung ke warung), mas bahkan rela ngirit buat beliin aku cincin emas hadiah ultah ku tahun kemaren,dsb.

Mas, makasih ya sayang….Mas tau ga itu semua dah bikin aku bahagia, bukan karna obat, cincin ato airnya, tapi karna niat tulus mu melakukan itu buat aku.

 

Untuk melihat cinta mas, emang harus mulai dilihat dari hal terkecil, dan aku sangat bahagia bisa melihat itu.

 

 

Ini ada cerita menarik, ga tau kenapa habis baca cerita ini kok jadi inget n sadar kalo mas sayang banget sama aku (hiks… ).

Aku cuma berharap dan berdoa, semoga mas tetap mencintaiku dengan tulus. Amin.

Dan aku juga pengen pembaca yang lain jadi menyadari akan adanya “cinta-cinta” itu.

 

 

Cerita ini aku sunting dari www.iqbalir.blogspot.com

 

 

“De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku. Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku. Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku. “De… Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku. “Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
“Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai. Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku. “Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya. Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan. “A’ lihat aku…,” pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama….” bisikku dalam cekat. Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku. Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

Tentang wilma

hanya manusia biasa yang ingin hidup bersama dengan manusia biasa, mengharap Ridho-Nya.
Pos ini dipublikasikan di Me & Him in Relationship. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s