Ikhlas Menerima…

Ikhlas itu apa si? mungkin KBBI udah kasih definisi, cuma dapatkah kita menerima hidup kita dengan ikhlas.

Flash back dulu ya…

Persiapan buat pernikahan selalu membuat senang hati ya ga?? hehehe… ampe2 smua nya diposting ke blog. Nah, di tengah semangat (yang emang kadang naik kadang turun si hehe…) untuk nyiapin rencana pernikahan kita, eee… si mas cerita hal yang menyesakkan dada hiks… (waktu itu sesek banget) sampe akhirnya aku bikin tulisan yang menceritakan isi hatiku, kayak gini ni…

“Hari ini Rabu tanggal 5 November 2008, memutuskan untuk berhenti mempersiapkan semua tetek bengek soal lamaran dan pernikahan.

Selasa malam, mas secara implisit mempermasalahkan terlalu cepatnya waktu berlalu. Sebagai manusia yang diberi akal, tentu saja aku sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraan ini. Lemaslah sudah sekujur tubuh, kecewa mulai merambat. Semangat ku seakan2 dicabut dari hidupku.

Ya Allah kuatkanlah aku yang lemah ini.

Pada awalnya mas mempermasalahkan mengenai pekerjaan dan pendapatannya yang menurutnya tidak bisa untuk menghidupiku nantinya.

Lalu kemana prinsip kerja sama dalam rumah tangga yang dulu sering kita bicarakan?

Apa mas ga mengenalku?

Mas bilang dia takut menyakitiku dengan tidak menafkahiku seperti dulu bapakku pernah tidak menafkahi ibuku.

Masalah apa ini? Masalah baru? Atau hanya sekedar masalah semu di balik masalah sebenarnya? Ternyata memang demikian.

Perasaan dan pikiranku mengatakan pasti ada masalah lain sehingga mas jadi begini.

Kalau masalah pekerjaan sudah pernah dibicarakan dan sudah sepakat bahwa kita tentu akan selalu berusaha mencari yang terbaik sambil tetap menjalankan rencana kita.

Yup.. pada saat itu semangatku tetap tinggi.

Kudesak mas bicara dengan gayaku bertanya, dengan menahan sakit dan sesak di dada, karna aku sudah bisa menebak kira2 apa inti pembicaraan ini.

 

Ternyata masalahnya ada pada keluarganya, adik2nya membutuhkan biaya. adiknya yang belum dapet kerja, adiknya yang kuliah, n adiknya yang mau kuliah.

Lalu Konsekuensinya apa? Mas ga bisa nabung buat biaya lamaran dan pernikahan.

Yup… ada skala prioritas disini.

Tapi mas mengingkarinya. Secara logis, tentu tidak dapat dijalankan dua kepentingan bersama dalam kasus ini.

Jujur saja mas… Mas sudah menempatkan aku pada posisi yang sangat sulit.

 

Antara Mimpi dan kebahagian Pribadiku dengan Masa Depan Adik Adikmu

Antara Pernikahan (dan tentunya pesta2) dengan Kelanjutan Hidup Adikmu

Antara Sakit Hati dan kecewaku dengan Hubungan Persaudaraanmu

 

Saat mas bilang, lebih memlilih dimusuhin saudaramu daripada menyakitiku, apakah kamu bersungguh2? Aku rasa tidak, jujur saja sama aku… Mas tidak mungkin meninggalkan keluarga demi Aku.

Demikian juga aku tidak akan meninggalkan keluargaku buat mas. Itu Wajar dan manusiawi.

Mas sudah mengenalku, segala keburukanku.. Jadi tidak mungkin aku membiarkan mas bermusuhan dengan saudara mas.

Jadi jangan pernah mas bilang lebih baik bermusuhan dengan saudara daripada menyakitiku, kenapa? Karena itu adalah kebohongan besar, itu lebih menyakitiku. Itu hanya umpan yang mas jadikan tameng atas ketidak mampuan mas mengatasi kesulitan. Aku pengen mas tegar menghadapi semua kesulitan ini, tanpa harus lari dari kenyataan mas memang sudah menyakitiku. Karna mas memang harus memilih.

Mas tidak mau merasa bersalah dengan bilang mau bermusuhan dengan adik, bahkan bilang kenapa harus punya adik banyak.”

Nah, kebayang kan gimana sedih dan sakitnya aku pada saat itu. Sekarang i’m Fine… walopun lagi banyak tugas kuliah whuahaha…

Sekarang aku dah ikhlas, nah lo… Pede banget ya bilang ikhlas. Aku sebenernya ga tau gimana definisi ikhlas, mungkin yang berhak menilai hanyalah Allah SWT.

Cuma mo sharing, ikhlas buat aku tu berarti ringan, lega tapi tetep berusaha. Hehehe… Sempet down karna masalah penundaan pernikahan, membuat aku merenungi semua kejadian.

Aku cuma menyadari beberapa hal yang membuat aku dengan tidak berat hati menerima keputusan mas (yang akhirnya di ketok palu jadi komitmen kita berdua hehehe)

  1. Berbakti kepada orang tua lebih tinggi setelah kita berbakti kepada Allah SWT. (Walopun masih dalam tahap belajar syariat agama,hehe). aku merasa jadi orang paling berdosa kalau aku memaksakan kehendakku melaksanakan rencana semula untuk menikah dengan mas mengabaikan keluarga, yaitu orang tua dan adik2nya. Aku sangat amat ingin jadi anak yang berbakti, aku juuga pengeeen nantinya mas bisa berbakti sma ortu ku, tp alangkah jahatnya aku kalo dengan memaksa mas menikah sesuai rencana ternyata membuat mas menjadi anak yang DURHAKA sama orang tuanya sendiri.
  2. Adiknya juga adikku. Aku ga mau egois mempertentangkan antara keinginan ku menikah dan pesta2nya dengan kebutuhan adiknya buat sekolah, yang artinya adalah bekal masa depan mereka. Aku merasa mendzolimi mereka kalo aku memaksakan rencana pernikahan yang artinya mas tidak membiayai adiknya dan membiarkan adiknya tidak sekolah.
  3. Waktu tidak tepat. Waktu yang kupilih untuk menikah memang kurang tepat karna bersamaan dng membengkaknya biaya yg dibutuhkan keluarga Mas, yang artinya mas harus mengalokasikan semua penghasilannya ke Orang Tua dan Adik2nya. Terlebih lagi kondisi keuangan keluarganya emang lagi drop. Aku jadi makhluk Tuhan yang paling Jahat seandainya aku tetap memaksakan rencana menikah ke mas, yang ternyata ditukar dengan kehidupan orang tua dan adik adiknya. Naudzu billahi min dzalik….
  4. Mungkin aku dinilai belum siap untuk berumah tangga. Hiks,… sedih juga. tapi pikiran ini yang terlintas hehe… secara aku ini banyak sekali keburukannya. Mungkin belum diijinkan untuk menikah. Lha ya iya wong aku nya aja masih berantakan gini, ga bisa ngatur uang dan waktu. Buktinya ga bisa ngatur waktu belajar, kerja dan kuliah dengan baik, jadi selalu ada korban hehe… Selain itu emosiku tingkat tinggi (sekarang dah belajar sedikit2 meredamnya hehe). n Sensitif. Semuanya lagi diproses ni menuju yang lebih baik. Amin. 1 lagi aku beluuuuummmmm Kurus hehe.. beluuuummmm diet. hehe.. Niatnya yang kurang kuat. Lg banyak kerjaan (self defence ku kumat). hehe…

Nah itu semua pemikiranku yang paling waras kayaknya hahaha… setelah memutuskan itu aku menjadi sangat lega dan ringan sekali hidupku, walaupun keputusan yang aku ambil itu telah menggeser impianku, tp menurutku bukan berarti kita gagal, tapi hanya masalah waktu.. jadi kepurtusannya adalah MENUNDA PERNIKAHAN sampe waktu yang tak ditentukan./ Hihihihi…..

Tapi aku merasa senang tidak egois, sekarang lagi berencana mau memberdayakan adik2nya mas ku biar bisa menghargai hidupnya dengan bekerja keras, yang pasti harus belajar. aku cuma pengen ngajarin mereka bahwa mencari uang itu tidak mudah, ada tanggung jawabnya juga.

Jadi rencananya mau ke Tanah Abang!!! Weeeiikkksss.. Loh kok ke Tanah Abang???? Tenang dulu… Gini ni ceritanya aku mau jualan baju, aku kirim ke Adiknya masku. Biar nanti Dhani ma Putri (adik2nya masku) yang jualin hehehehe.. nah nanti dari keuntungannya bisa buat nambahin beli buku mereka hehe.. Gitu Loh. Doain tercapai ya niatku ga jahat kok… Amin. Ya Rabbil Alamin.

Tentang wilma

hanya manusia biasa yang ingin hidup bersama dengan manusia biasa, mengharap Ridho-Nya.
Pos ini dipublikasikan di Me & Him in Relationship. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s